Loading...

Wednesday, 26 October 2011

Atasi Kebosanan Pernikahan Versi Community Bengkulu

Rutinitas dalam pernikahan kerap memicu kebosanan dalam hubungan jangka panjang.

Community Bengkulu - Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memelihara cinta hingga akhir hayat. Namun tak dapat dipungkiri, rasa hambar atau bosan pasti akan menghiasi masa-masa pernikahan.
Jika pernikahan menjadi rutinitas sehari-hari yang membosankan tanpa komunikasi yang lancar, kehidupan pernikahan bisa menjadi hambar. Inilah yang menjadi pemicu munculnya kecurangan dan perselingkuhan. Ingin pernikahan tetap awet?  Berikut empat cara ampuh dari Oprah.com yang wajib Anda coba.

1. Buat daftar positif dan negatif

Buatlah daftar sifat-sifat positif dan negatif dari kedua orang tua Anda. Lalu, buat daftar yang serupa yang menggambarkan Anda dan pasangan Anda. Lihatlah koneksi yang terjalin. Pelajari dan analisa hasil tersebut, Anda pun akan belajar banyak dari kedua orang tua Anda bagaimana menghubungkan dua pribadi yang berbeda.

2. Buat daftar yang disukai dan tidak disukai
Tuliskan apa saja yang Anda sukai dan tidak Anda sukai dari pasangan Anda serta dari diri Anda sendiri. Lalu, bandingkan keduanya dan berbagilah dengan pasangan Anda.

3. Atasi kebosanan dan frustasi

Pikirkan bagaimana Anda menangani frustasi. Apakah Anda cenderung membesar-besarkan masalah atau menyembunyikannya? Jika Anda cenderung membesar-besarkan masalah, Anda adalah seorang 'maximizer', sedangkan jika Anda cenderung menyembunyikannya, Anda adalah 'minimizer'.

Hampir di setiap hubungan selalu ada maximizer dan minimizer. Inilah sumber konflik. Cara untuk mengubah ini semua hanyalah dengan mencoba berubah menjadi apa yang dilakukan pasangan Anda, begitu pula pasangan Anda menjadi apa yang biasa Anda lakukan.

Jika Anda berhasil melakukannya, Anda akan lebih mengerti posisi pasangan Anda.

4. Diskusi

Tanyakan pasangan Anda terkait kekecewaan terdalamnya terhadap Anda. Lalu, tanyakan apa yang dia sangat butuhkan dari Anda. Dengarkan setiap kata yang terucap tanpa bereaksi. Analisa sudut pandangnya, dan ungkapkan empati. Mendiskusikan keluh kesah masing-masing bisa menjadi cara untuk memahami satu sama lain.