Loading...

Monday, 13 August 2012

Renungan,....Mungkinkah Ini alasan Rezeki Kita Tersendat Versi Community Bengkulu

Renungan buat Penulis dan Pembaca

Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu
Mungkin kita sering kali seret dengan rezeki, bener kan? Kadang-kadang kita bingung sebenernya kenapa yah Yang Maha Kuasa tidak mengabulkan doa/keinginan kita, apa Tuhan mau nguji kita atau Tuhan udah tidak sayang sama kita ?
Jangan pernah berkata begitu. Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik buat semua orang, “Tapi sudah banting tulang kerja seharian hidup tetep begini saja” (mungkin gerutu banyak orang).
Sebenernya Tuhan bukan tidak mau mengabulkan doa atau mewujudkan keinginan kita semua, Justru kitalah yang tidak mau mematuhi hukum-hukum DIA yg disebut hukum LOA (Law of Attraction). Ingatlah, doa itu terkait sangat erat dengan LOA.
Hukum Tarik-Menarik (Law of Attraction) yang intinya kurang lebih seperti ini: Apa yang Anda pikirkan, itulah yang semesta berikan. Boleh juga dibilang, pikiran Anda-lah yg menarik segala sesuatu itu terjadi.
Renungan :
- Saat kita berusia 1 tahun. Orang tua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
- Saat kita berusia 2 tahun. Orang tua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orang tua memanggil kita.
- Saat kita berusia 3 tahun. Orang tua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasannya, kita malah menumpahkannya.
- Saat kita berusia 4 tahun. Orang tua memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasannya, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.
- Saat kita berusia 5 tahun. Orang tua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasannya, kita malah mengotorinya dengan bermain-main lumpur.
- Saat kita berusia 10 tahun. Orang tua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasannya, kita malah malas-malasanan bahkan bolos sekolah.
- Saat kita berusia 11 tahun. orangtua mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasannya, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar dan masuk rumah.
- Saat kita berusia 14 tahun. Orang tua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasannya, kita malah menolak dan mengeluh, “Bapak, Ibu, aku sudah besar!”
- Saat kita berusia 17 tahun. Orang tua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yg tidak penting.
- Saat kita berusia 18 tahun. Orang tua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasannya, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
- Saat kita berusia 19 tahun. Orang tua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kita meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus.
- Saat kita berusia 22 tahun. Orang tua memeluk kita dengan haru ketika kita Wisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Bapak, Ibu, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”
- Saat kita berusia 23 tahun, Orang tua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong Pak!”
- Saat kita berusia 27 tahun, Orang tua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan mereka dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
- Saat kita berusia 30 tahun, Orang tua memberi tahu bagaimana merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata,”Bapak, Ibu zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara kaya dulu.”
- Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orangtua kita. Bukan mustahil, itu yang menyumbat rezeki dan kebahagiaan kita selama ini.
Mungkin ada benarnya juga, kadang usaha penulis juga tersendat-sendat. Setelah saya pikir, mungkin penulis perlu pendekatan lebih kepada orang tua. Pepatah abadi juga mengatakan, “surga ada di bawah telapak kaki ibu“. So, semoga kita semua mau berubah untuk selalu berbakti pada orang tua kita, seburuk apa pun mereka, tetap mereka adalah yang membuat kita terlahir ke dunia ini dan mereka lah yg mengajari kita ketika kita tidak tahu apa-apa.
Semoga renungan di atas bisa memotivasi khususnya bagi Penulis dan umumnya bagi pembaca Community Bengkulu